Perpustakaan sebagai Lembaga Pendidikan Informal dalam Sejarah Pendidikan Islam

Rasdanelis Rasdanelis

Abstract


Islam adalah agama yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Islam
menempatkan orang yang berilmu pada tingkatan yang tinggi, bahkan
Islam menjadikan wajib bagi kaum muslim baik laki-laki maupun perempuan
untuk menuntut ilmu. Menuntut ilmu, tidak mengenal batas usia,
waktu dan tempat seperti kata petatah Arab “tuntutlah ilmu dari ayunan
hingga ke liang lahat”. Simbol ini, tertuang dalam peran dan fungsi perpustakaan,
dari pertumbuhan perpustakaan secara tradisional sehingga
perkembangan ilmu pengetahuan di era global.
Keberadaan perpustakaan dalam menggerakkan proses transfer pengetahuan
sudah bergema sejak awal kedatangan Islam, meskipun dalam
bentuk yang masih sederhana (berupa rumah-rumah ilmu). Pepustakaan,
dipercaya sebagai lembaga informal yang sudah berkembang dan dibina
dalam mewujudkan ruh keilmiahan sejak awal kebangkitan Islam sampai
saat ini, tentunya dengan bentuk dan simbol yang berbeda sesuai dengan
perkembangan ilmu pengetahuan.
Namun, seiring perkembangan budaya dan peradaban manusia, sehingga
perpustakaan dalam konteks zaman duhulu dengan era sekarang, terjadi
pergeseran makna dan fungsi. Perpustakaan sekarang lebih berfungsi sebagai
mengkoleksi informasi-informasi dan tempat belajar untuk mendapatkan
informasi-informasi, baik informasi dalam bentuk tercetak maupun
un-printed collection.
Perpustakaan di masa dahulu, memiliki peran yang lebih besar, dimana
perpustakaan mampu menjadi agen terjadinya apa yang disebut “transformasi
ilmu intelektual”. Sehingga dapat dikatakan, proses tranformasi
ilmu pengetahuan dari Persia, Yunani dan Roma, tidak akan berlangsung 

tanpa adanya upaya penerjemahan di perpustakaan-perpustakaan, dan
tidak akan terjadi pula persingggungan dunia Islam dengan intelektualisme
Yunani.
Kata Kunci: Perpustakaan; Pendidikan Islam; Sejarah Pendidikan Islam.


Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.